Seekor singa terus saja menyalahkan Tuhan. Memang benar bahwa Tuhan telah membuatnya besar dan gagah, memberinya taring dan cakar, juga memberinya kekuatan yang melebihi segala binatang yang lain. Tetapi dengan segala kelebihan ini, keluhnya dia takut dengan ayam jago.
“kau tak punya alasan untuk menyalahkanku,” Jawab Tuhan. “Kau memiliki segalanya yang bisa kuberikan. Jiwamu sendirilah yang memiliki kelemahan itu.”
Mendengar hal ini singa menjadi begitu murung dan terus saja mengutuk kepengecutannya, hingga sampai pada suatu tahap dia ingin mengakhiri hidupnya. Kemudian melintaslah seekor gajah kawan lamanya. Mereka lalu mengobrol.
Diperhatikannya si gajah terus saja menggerak-gerakkan kupingnya.
“Ada apakah?” tanya singa. “Tak bisakah kau berhenti menggerak-gerakkan telingamu sebentar saja?”
Beberapa kemudian datanglah seekor lalat mendengung, terban mengitari kepala sang gajah.
Kau lihat hewan kecil yang mendengung itu?” tanya gajah. “Jika hewan sialan itu sampai masuk ke telingaku maka habislah riwayatku.”
Kenyataan gajah takut terhadap lalat telah memberi singa pikiran baru yang membuatnya lebih tenang.
“Tak perlu mati bagiku,” pikir singa. “Aku besar dan kuat, dan aku lebih beruntung daripada gajah. Seekor jago bagaimanapun tetap hewan yang lebih perlu ditakuti daripada lalat.”
0 Responses to “Sahabat dan Rasa Takut”